Setiap pagi, ribuan warga Bojong Gede berjalan kaki — menuju Stasiun KRL, ke pasar, ke sekolah anak, atau sekadar ke warung tetangga. Tapi pertanyaannya: di mana mereka berjalan? Seringkali jawabannya bukan di trotoar, melainkan di bahu jalan yang berbahaya, berdampingan langsung dengan kendaraan yang melaju.
Kondisi ini bukan baru terjadi kemarin. Kerusakan dan ketiadaan trotoar yang layak di kawasan Bojong Gede sudah menjadi masalah bertahun-tahun. Dan parahnya, hampir tidak ada perbaikan signifikan yang terlihat.
Realita di Lapangan: Trotoar Rusak, Pejalan Kaki Terpinggirkan
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Di sepanjang Jalan Raya Bojong Gede, banyak titik yang sama sekali tidak memiliki trotoar. Pejalan kaki terpaksa berjalan di pinggiran aspal yang sempit, kadang harus menghindari genangan air atau material bangunan yang berserakan.
Kondisi serupa juga terjadi di kawasan lain di sekitar Bojong Gede. Menurut laporan TribunnewsBogor.com (16/4/2026), pedestrian di Jalan Raya Paledang, Kota Bogor, mengalami kerusakan parah hingga rata dengan tanah. Bahkan, banyak lantai pedestrian yang sudah ditumbuhi akar pohon besar.
Di kawasan Empang, Kota Bogor, kondisi trotoar juga dilaporkan sangat memprihatinkan. Material trotoar tampak hancur dan permukaannya tidak rata, sehingga membuat pejalan kaki tidak nyaman bahkan membahayakan karena harus turun ke bahu jalan yang padat kendaraan, seperti dilaporkan Metrobogor.id (12/5/2026).
Mengapa Ini Penting?
Trotoar bukan sekadar infrastruktur fisik. Trotoar adalah cerminan bagaimana kota memperlakukan warganya — khususnya yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Di Bojong Gede, sebagian besar pengguna jalan adalah:
- Ibu-ibu belanja ke pasar — berjalan kaki membawa belanjaan
- Pelajar — berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah
- Pekerja komuter — berjalan kaki ke Stasiun KRL Bojong Gede
- Lansia — berjalan kaki untuk aktivitas sehari-hari
- Penyandang disabilitas — yang sangat membutuhkan jalur aman dan rata
Ketika trotoar rusak atau tidak ada, semua kelompok ini terpaksa berjalan di jalan raya. Risiko kecelakaan meningkat. Anak-anak berjalan beriringan dengan truk dan motor yang melaju kencang. Ini bukan soal kenyamanan — ini soal keselamatan nyawa.
Apa Kata Warga?
Keluhan soal trotoar sudah lama terdengar. Di kawasan Pakansari, Metrobogor.id (14/4/2026) melaporkan bahwa trotoar mulai mengalami kerusakan seperti retak dan permukaan yang tidak rata. Lebih parah lagi, banyak pengendara sepeda motor yang memarkirkan kendaraannya di atas trotoar, sehingga menghambat akses pejalan kaki.
Di Jalan Suryakencana, pedestrian yang seharusnya menjadi jalur pejalan kaki justru dimanfaatkan sebagai parkir liar sepeda motor. “Sayang dibangun mahal-mahal, tapi tidak diawasi dan dijaga dengan baik,” keluh seorang warga seperti dikutip Metrobogor.id (19/4/2026).
Kondisi ini mencerminkan pola pikir yang masih menganggap kendaraan lebih penting dari pejalan kaki. Padahal, data menunjukkan bahwa mayoritas perjalanan warga Bojong Gede adalah perjalanan pendek — jarak yang seharusnya nyaman ditempuh dengan berjalan kaki jika fasilitasnya memadai.
Bukan Hanya Masalah Bojong Gede
Masalah trotoar ini sebenarnya bukan hanya dialami Bojong Gede. Di banyak kota di Indonesia, pejalan kaki selalu menjadi kelompok yang paling terabaikan dalam perencanaan transportasi. Tapi untuk wilayah suburban seperti Bojong Gede, dampaknya lebih terasa karena:
- Kepadatan penduduk tinggi — Bojong Gede merupakan salah satu kawasan penyangga Jakarta dengan kepadatan penduduk yang terus meningkat
- Ketergantungan pada KRL — ribuan warga harus berjalan kaki ke stasiun setiap hari
- Jaringan angkutan umum terbatas — banyak warga yang tidak memiliki akses ke kendaraan pribadi
- Pertumbuhan perumahan pesat — namun tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur pejalan kaki
Harapan untuk Bojong Gede
Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:
- Audit kondisi trotoar — Pemkab Bogor perlu melakukan pendataan menyeluruh soal kondisi trotoar di seluruh Kecamatan Bojong Gede
- Perbaikan bertahap — mulai dari ruas-ruas utama seperti Jalan Raya Bojong Gede, Jalan Bambu Kuning, dan jalur menuju Stasiun KRL
- Penertiban parkir liar — trotoar harus dikembalikan fungsinya untuk pejalan kaki, bukan tempat parkir motor
- Desain ramah disabilitas — pemasangan guiding block dan akses yang memadai bagi pengguna kursi roda
- Pengawasan berkala — agar kerusakan tidak terus memburuk tanpa penanganan
Kabar baiknya, Pemkab Bogor saat ini tengah menyiapkan rencana pelebaran Jalan Bambu Kuning hingga Citayam. Namun, pelebaran jalan tanpa memperhatikan kebutuhan pejalan kaki hanya akan memperparah masalah — jalan makin lebar, tapi tetap tidak ada ruang aman untuk berjalan kaki.
Akhirnya
Trotoar yang layak bukan kemewahan. Ini adalah hak setiap warga untuk bisa bergerak dengan aman di kampung halamannya sendiri. Bojong Gede sudah terlalu lama kehilangan ruang untuk pejalan kaki. Sudah saatnya pemerintah dan warga bersama-sama memperjuangkan hak ini — karena kota yang baik adalah kota yang tidak hanya nyaman untuk mobil, tapi juga untuk manusia.
Penulis: Baba Fatih — Opini ini merupakan pandangan pribadi penulis, bukan sikap resmi redaksi bojonggede.com.
Sumber
- TribunnewsBogor.com — Pedestrian di Paledang Rusak Parah, Warga: Tidak Ramah Pejalan Kaki (16/4/2026)
- Metrobogor.id — Trotoar di Kawasan Empang Rusak Parah, DPRD Minta Pemprov Jabar Tak Tutup Mata (12/5/2026)
- Metrobogor.id — Trotoar di Kawasan Pakansari Mulai Rusak, Disalahgunakan untuk Parkir Motor (14/4/2026)
- Metrobogor.id — Pedestrian Jalan Suryakencana Bogor Jadi Tempat Parkir Motor (19/4/2026)
- Wikimedia Commons — Dago Pedestrian Zone, Sukabumi (CC BY-SA 4.0)
.







