Beranda / Sejarah / Sejarah Lengkap Bojonggede: Dari Kerajaan Pajajaran hingga Kecamatan Modern

Sejarah Lengkap Bojonggede: Dari Kerajaan Pajajaran hingga Kecamatan Modern

Stasiun bojonggede

Bojonggede bukan sekadar nama kecamatan di Kabupaten Bogor. Di balik namanya tersimpan sejarah panjang yang dimulai dari zaman Kerajaan Sunda Pajajaran pada abad ke-10 hingga menjadi kawasan pemukiman padat yang strategis di antara Bogor dan Depok.

Artikel ini mengulas sejarah lengkap Bojonggede berdasarkan arsip pemerintah, catatan sejarah VOC, naskah kuno, dan sumber-sumber kredibel lainnya.

 

Asal Usul Nama Bojonggede

Nama “Bojonggede” berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda: “Bojong” yang berarti bagian daratan yang menjorok ke sungai (mirip tanjung di laut), dan “Gede” yang berarti besar. Secara harfiah, Bojonggede berarti “tanjung besar” atau “daratan menjorok yang besar”.

Menurut catatan sejarah, nama ini merujuk pada sebuah batu besar yang menonjol atau mencorok ke dalam lubang bantaran Kali Ciliwung. Bentang alam inilah yang menjadi penanda geografis wilayah ini sejak ratusan tahun lalu.

 

Zaman Kerajaan Pajajaran (932–1579 M)

Sebelum nama Bojonggede tercatat dalam dokumen kolonial, wilayah ini sudah merupakan bagian dari Kerajaan Sunda yang lebih dikenal sebagai Kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 932 hingga 1579 Masehi, berpusat di Pakuan Pajajaran (kini kawasan Kota Bogor Selatan).

Kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara yang runtuh. Nama “Pajajaran” sendiri merujuk pada topografi wilayah: beberapa kilometer Sungai Ciliwung dan Cisadane mengalir sejajar (“pajajaran” berarti “sejajar”). Bojonggede, yang terletak di sepanjang aliran Ciliwung, secara geografis berada dalam lingkup kekuasaan kerajaan ini.

 

Masa Kejayaan: Prabu Siliwangi

Puncak kejayaan Pajajaran terjadi pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi (1482–1521 M). Di bawah kepemimpinannya, Pakuan Pajajaran menjadi pusat politik, budaya, dan ekonomi yang maju. Prasasti Batu Tulis yang terletak di Bogor Selatan, ditulis oleh putra Siliwangi, Prabu Surawisesa pada tahun 1533 M, memuat penghormatan terhadap pencapaian sang ayah, termasuk pembangunan ibu kota kerajaan dan penataan pemerintahan.

Meskipun ibu kota kerajaan berada di Bogor, wilayah Bojonggede dipercaya sebagai bagian dari daerah kekuasaan dan jalur strategis karena dilewati Sungai Ciliwung, urat nadi transportasi dan perdagangan masa itu.

 

Runtuhnya Pajajaran

Pada tahun 1579, Kerajaan Pajajaran runtuh setelah diserang oleh Kesultanan Banten. Raja terakhir, Prabu Mulya (Suryakancana), meninggalkan Pakuan dan menetap di Pulasari. Sebagian punggawa kerajaan yang tersisa pindah ke Kabupaten Lebak, Banten, dan kini dikenal sebagai orang Baduy yang masih mempertahankan tata cara kehidupan leluhur.

Kota Pakuan yang pernah dihuni sekitar 48.271 jiwa ditemukan dalam kondisi como sebagai “puing” yang diselimuti hutan tua oleh ekspedisi Scipio pada tahun 1687.

 

Bojonggede dalam Catatan VOC (1701)

Nama Bojonggede sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Bukti tertuanya terdapat dalam Daghregister (buku harian resmi) tahun 1701, di mana pemerintah VOC memberi izin kepada Abraham van Riebeeck untuk memiliki lahan di wilayah Bodjong Manggis dan Bodjoeng Gede.

Van Riebeeck membuka lahan pertanian di kawasan ini. Pada tahun 1709, ia mencatat adanya ladang baru di lereng Cipakancilan (Sungai Ciliwung), menandakan kembalinya kehidupan di bekas wilayah kerajaan yang telah lama terbengkalai. Fakta ini menunjukkan bahwa Bojonggede sudah dihuni dan dikenal sebagai wilayah strategis setidaknya sejak awal abad ke-18.

 

Masa Perjuangan Kemerdekaan

Bojonggede memiliki catatan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di desa ini berdiri Tugu Pahlawan Bojonggede yang terletak di Kampung Gedong RT 01 RW 10, Desa Bojonggede.

Tugu yang didirikan oleh Pejabat Bupati Daerah Tingkat 2 Kabupaten Bogor, Ir Hasan Wirahadikusuma, pada tahun 1983 ini memuat tiga nama pejuang yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda di wilayah Bojonggede-Depok:

  1. H M Achmad
  2. Ibrahim Adji
  3. Ishak Djuarsa

Dua dari tiga pejuang tersebut diketahui memiliki pangkat tinggi dalam dunia militer, menandakan betapa strategisnya wilayah Bojonggede dalam pertahanan saat itu.

 

Masjid Jami An-Nur: Saksi Bisu Sejarah

Bukti sejarah lainnya adalah keberadaan Masjid Jami An-Nur di Kampung Masjid, Desa Bojonggede. Masjid ini diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1814 Masehi, dibangun oleh RH Panji Nitikisumah bin R Kosim di atas tanah wakaf milik Embah Idang.

Masjid ini menjadi masjid tertua di wilayah Bojonggede dan menjadi bukti bahwa kawasan ini sudah menjadi pusat kegiatan masyarakat Islam sejak awal abad ke-19. RH Panji sendiri dimakamkan di area masjid ini.

 

Tradisi dan Kebudayaan Bojonggede

Bojonggede memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang mencerminkan akulturasi antara pengaruh Sunda, Betawi, dan Jawa. Beberapa tradisi yang masih dilestarikan hingga kini:

Parade Budaya Lebaran Bojonggede

Acara tahunan ini digelar di Lapangan Siaga, Desa Bojonggede, setiap akhir Syawal sejak tahun 2021. Parade Budaya Lebaran merupakan wadah pelestarian tradisi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT/RW, karang taruna, tokoh agama, hingga paguyuban pencak silat.

Pada penyelenggaraan tahun 2025, acara yang berlangsung selama dua hari (3–4 Mei) ini diikuti oleh 43 tim pagelaran seni, 70 bazar UMKM, dan pawai dongdang yang diikuti 21 kelompok RW dengan masing-masing membawa 200 peserta. Tema pawai dongdang tahun 2025 adalah “Miniatur Indonesia” dengan konsep Betawi-Sunda, mencerminkan masyarakat Bojonggede yang multi kultur dan multi bahasa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menegaskan bahwa parade budaya ini bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi wadah menjaga kesinambungan adat istiadat di tengah arus modernisasi dan digitalisasi.

Pawai Dongdang

Dongdang adalah tradisi arak-arakan membawa hantaran yang dihias dengan kreatif. Dalam tradisi Bojonggede, dongdang menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong. Setiap RW berlomba membuat dongdang semenarik mungkin dengan konsep unik, kemudian dinilai oleh dewan juri. Peserta mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah nusantara, menjadikan pawai ini sebagai perayaan keragaman budaya.

Pencak Silat

Pencak silat merupakan bagian penting dari budaya Bojonggede. Berbagai paguyuban pencak silat aktif di setiap RW dan turut meramaikan parade budaya tahunan. Seni bela diri ini sudah dikenal sejak lama di masyarakat Bojonggede dan menjadi warisan budaya yang terus dijaga.

Bahasa Betawi Ora

Keunikan budaya Bojonggede yang paling menonjol adalah penggunaan Bahasa Betawi Ora sebagai bahasa dominan, bukan Bahasa Sunda seperti kebanyakan wilayah di Kabupaten Bogor. Bahasa Betawi Ora ini merupakan percampuran antara Bahasa Sunda Bogor dan Bahasa Jawa. Ragam Bahasa Betawi di Bojonggede sangat unik karena lebih banyak menyerap kosakata dari Bahasa Sunda, menjadi bukti adanya akulturasi dan asimilasi budaya yang terjadi selama berabad-abad.

Sementara itu, penutur Bahasa Sunda di Bojonggede umumnya menggunakan Dialek Sunda Bogor dan didominasi oleh generasi lanjut usia. Anak muda di Bojonggede banyak yang memahami Bahasa Sunda namun tidak menggunakannya dalam keseharian.

 

Dodol Bojonggede: Kuliner Warisan Budaya

Bojonggede dikenal sebagai sentra pembuatan dodol, makanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan, gula merah, dan santan kelapa. Dodol Bojonggede memiliki sejarah panjang dan menjadi salah satu identitas kuliner khas daerah ini.

Sejarah Dodol Bojonggede

Pada tahun 1970, pasangan Mandor Tholib dan C Marhaya merintis usaha dodol di Kampung Masjid, Desa Bojonggede. Dari generasi ke generasi, resep tradisional ini terus dilestarikan. Agus Sulaiman, putra dari kedua pasangan tersebut, meneruskan usaha dodol sejak tahun 2002 dengan nama “Dodol Bojong Indira’f”.

Proses pembuatan dodol Bojonggede masih dilakukan secara tradisional: adonan tepung ketan, gula merah, dan santan diaduk terus-menerus dalam kuali besar selama berjam-jam hingga mengental dan kenyal. Teknik mengaduk dengan sodet jumbo ini membutuhkan tenaga besar dan kesabaran, menjadikan dodol Bojonggede benar-benar hasil kerja tangan.

Varian Rasa

Saat ini, dodol Bojonggede hadir dalam berbagai varian rasa:

  • Original – rasa manis legit klasik
  • Wijen – favorit anak-anak dan keluarga
  • Ketan Hitam – dengan tekstur lebih kenyal
  • Durian – aroma kuat dan rasa creamy
  • Kurma – varian terbaru yang mulai populer

Dodol Bojonggede juga menginspirasi inovasi kuliner baru seperti dodol goreng – dodol yang digoreng dengan tepung, menciptakan camilan unik yang mulai populer di kalangan anak muda.

Dodol dan Tradisi Ramadan

Bagi pembuat dodol di Kampung Masjid, Ramadan adalah berkah. Permintaan dodol meningkat drastis karena menjadi sajian wajib saat Lebaran. Tradisi membuat dodol secara gotong royong ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bojonggede turun-temurun.

 

Pembentukan Kecamatan Bojonggede (1981)

Secara administratif, Bojonggede dimekarkan menjadi kecamatan tersendiri pada tanggal 5 Mei 1981. Sebelumnya, wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Depok yang masih berada dalam Kabupaten Bogor.

Pemekaran ini dilakukan seiring bertambahnya populasi dan kebutuhan pemerintahan yang lebih terpusat. Kecamatan Bojonggede terdiri dari 1 kelurahan (Pabuaran) dan 8 desa, yaitu:

  • Bojong Baru
  • Bojonggede
  • Cimanggis
  • Kedung Waringin
  • Ragajaya
  • Rawa Panjang
  • Susukan
  • Waringin Jaya

 

 

Keunggulan Wilayah dan Posisi Strategis

Bojonggede memiliki keunggulan geografis yang membuatnya menjadi salah satu wilayah paling strategis di Kabupaten Bogor:

  • Luas wilayah: 28,34 km² dengan populasi mencapai 298.560 jiwa
  • Posisi geografis: Berada di antara Kota Bogor dan Kota Depok, menjadi koridor penghubung dua kota
  • Akses transportasi: Dilayani oleh Stasiun Bojonggede dan Stasiun Citayam (KRL Commuter Line) yang melayani ratusan ribu penumpang setiap hari
  • Jalur arteri: Jalan Bojonggede-Kemang menjadi urat nadi ekonomi yang menghubungkan kawasan pemukiman dengan pusat aktivitas

Posisi ini menjadikan Bojonggede bukan hanya kawasan komuter, tetapi juga magnet pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Bogor.

Peta Kecamatan bojonggede dari Bojonggede – Balai Penyuluhan Pertanian Wilayah IX
Peta Kecamatan bojonggede

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Potensi Ekonomi dan UMKM

Ekonomi Bojonggede menunjukkan tren positif dalam lima tahun terakhir. Sektor UMKM menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat:

UMKM Unggulan

  • Dodol Bojonggede – produk kuliner tradisional yang sudah dikenal luas
  • Keripik pisang – produk UMKM yang sudah meraih pasar provinsi
  • Kue tradisional – berbagai jenis kue khas yang diproduksi rumahan
  • Produk pertanian – sayuran, biofarmaka, dan buah-buahan

Sektor Pertanian

Meskipun terus berurbanisasi, Bojonggede masih mempertahankan sektor pertanian. Data dari Balai Penyuluhan Pertanian Wilayah IX menunjukkan produksi komoditas pertanian meliputi:

  • Sayuran: Bayam, kangkung, cabai, bawang
  • Biofarmaka: Jahe, kunyit, lengkuas
  • Buah-buahan: Pisang, pepaya, mangga, belimbing
  • Tanaman hias: Philodendron, anthurium, palem

Pengembangan Infrastruktur Ekonomi

Pemerintah Kabupaten Bogor terus memperkuat infrastruktur ekonomi di Bojonggede. Proyek-proyek strategis yang masuk prioritas:

  • Flyover Bojonggede–Kemang – masuk prioritas pembangunan 2027 untuk memperlancar konektivitas
  • Jalur Arteri Bojonggede-Kemang (Bomang) – proyek tembusan yang mendongkrak valuasi properti dan aktivitas ekonomi
  • Pertanian terpadu di median jalan – optimalisasi lahan tidur menjadi area produktif untuk ketahanan pangan

Bupati Bogor Rudy Susmanto menegaskan bahwa pembangunan tahun 2027 akan difokuskan pada pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi baru, termasuk di wilayah Bojonggede-Kemang.

 

Bojonggede di Era Modern

Kini, Bojonggede telah berubah menjadi kawasan pemukiman padat yang strategis. Perkembangan ini membawa Bojonggede dari sekadar “tanjung besar” di Ciliwung menjadi salah satu kecamatan paling dinamis di Kabupaten Bogor.

Proses urbanisasi yang masif menjadikan Bojonggede salah satu wilayah terpadat di Kabupaten Bogor. Namun di tengah modernisasi, masyarakat Bojonggede tetap mempertahankan tradisi dan budaya leluhur melalui parade budaya tahunan, pelestarian dodol tradisional, dan semangat gotong royong yang masih kental.

Sumber

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa arti nama Bojonggede?

Nama Bojonggede berasal dari bahasa Sunda: “Bojong” berarti daratan yang menjorok ke sungai, dan “Gede” berarti besar. Nama ini merujuk pada batu besar yang menonjol ke dalam bantaran Sungai Ciliwung.

Apakah Bojonggede ada hubungannya dengan Kerajaan Pajajaran?

Ya. Bojonggede merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda/Pajajaran yang berpusat di Pakuan Pajajaran (Bogor). Kerajaan ini berdiri dari abad ke-10 hingga 1579 M, dan wilayah Bojonggede berada di sepanjang aliran Sungai Ciliwung yang menjadi urat nadi kerajaan.

Kapan nama Bojonggede pertama kali tercatat dalam sejarah?

Nama Bojonggede sudah tercatat dalam Daghregister VOC tahun 1701, ketika Abraham van Riebeeck mendapat izin memiliki lahan di wilayah Bodjong Manggis dan Bodjoeng Gede.

Apa tradisi tahunan yang masih dilestarikan di Bojonggede?

Parade Budaya Lebaran Bojonggede menjadi tradisi tahunan yang digelar setiap akhir Syawal sejak 2021. Acara ini meliputi pawai dongdang, pagelaran seni, bazar UMKM, dan pelayanan publik, melibatkan seluruh elemen masyarakat dari RT/RW hingga karang taruna.

Apakah Bojonggede punya kuliner khas?

Dodol Bojonggede merupakan kuliner khas yang sudah dikenal luas. Dibuat secara tradisional sejak tahun 1970, dodol ini hadir dalam berbagai varian rasa termasuk original, wijen, ketan hitam, durian, dan kurma.

Keunggulan ekonomi Bojonggede apa saja?

Bojonggede memiliki posisi strategis antara Bogor dan Depok, akses KRL Commuter Line, UMKM yang produktif (dodol, keripik pisang), serta proyek infrastruktur strategis seperti Flyover Bojonggede-Kemang yang masuk prioritas 2027.

Kapan Kecamatan Bojonggede dibentuk?

Kecamatan Bojonggede dimekarkan pada tanggal 5 Mei 1981 dari bagian Kecamatan Depok yang sebelumnya menjadi wilayah Kabupaten Bogor.

Masjid apa yang paling tua di Bojonggede?

Masjid Jami An-Nur di Kampung Masjid, Desa Bojonggede, adalah masjid tertua yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1814 Masehi, dibangun oleh RH Panji Nitikisumah.

Siapa saja pahlawan yang diabadikan di Tugu Pahlawan Bojonggede?

Tugu Pahlawan Bojonggede memuat tiga nama pejuang: H M Achmad, Ibrahim Adji, dan Ishak Djuarsa. Mereka gugur dalam pertempuran melawan Belanda di wilayah Bojonggede-Depok.